Belajar setia di tengah proses ( 2 Tawarikh 6-7 )

 Saat membaca 1 Tawarikh 6–7, awalnya aku merasa bagian ini hanya berisi daftar nama yang panjang dan sulit dipahami. Tapi semakin aku renungkan, justru di sanalah Tuhan berbicara dengan cara yang sederhana namun dalam. Nama-nama itu bukan sekadar catatan sejarah—mereka adalah bukti bahwa setiap orang diperhitungkan oleh Tuhan.

Di pasal 6, aku melihat bagaimana suku Lewi dipilih untuk melayani Tuhan secara khusus. Mereka tidak semua terlihat “besar” atau terkenal, tetapi mereka punya peran penting dalam menjaga ibadah tetap hidup. Dari sini aku merasa ditegur—sering kali aku ingin melakukan sesuatu yang terlihat besar atau diakui orang lain, padahal Tuhan lebih melihat kesetiaan daripada besar kecilnya peran.

Lalu di pasal 7, aku melihat sisi lain kehidupan: ada kekuatan, pertumbuhan, tetapi juga ada kehilangan dan kesedihan. Ini terasa sangat dekat dengan kehidupanku. Tidak semua hal berjalan seperti yang aku rencanakan. Ada momen di mana aku merasa gagal, kecewa, bahkan kehilangan semangat. Tapi bagian ini mengingatkanku bahwa semua itu juga bagian dari perjalanan hidup yang Tuhan izinkan.

Aku mulai menyadari bahwa hidup bukan soal menjadi yang paling menonjol, tetapi tentang tetap berjalan bersama Tuhan, apa pun situasinya. Tuhan tidak pernah mengabaikan setiap prosesku, bahkan ketika aku merasa kecil atau tidak berarti.

Hari ini aku belajar untuk berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Aku mau belajar setia dengan apa yang ada di tanganku sekarang, sekecil apa pun itu. Karena ternyata, di mata Tuhan, kesetiaan dalam hal kecil itu sangat berharga.

Refleksi pribadi ku
Aku ingin lebih menghargai proses, bukan hanya hasil. Aku mau tetap percaya bahwa Tuhan sedang bekerja, bahkan ketika aku tidak melihat sesuatu yang besar terjadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Renungan 1 Tawarikh 23-24

30/1/2026

HARI PERTAMA DI STT WESLEY INDONESIA