Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

renungan dari 2 raja raja pasal 25

 Hari ini aku membaca tentang jatuhnya Yerusalem. Kota yang dulu dianggap sebagai tempat kediaman Tuhan kini hancur: tembok runtuh, Bait Allah dibakar, dan rakyat dibuang ke Babel. Kisah ini terasa menyedihkan, karena kehancuran itu bukan terjadi seketika, melainkan akibat dari ketidaksetiaan yang berlangsung lama. Aku menyadari bahwa kesalahan yang dibiarkan terus-menerus pasti membawa dampak. Yehuda sudah berkali-kali diperingatkan lewat para nabi, tetapi mereka tetap keras kepala. Saat hukuman datang, tidak ada lagi kesempatan untuk mengubah keadaan. Ini membuatku bertanya pada diriku sendiri: apakah ada kebiasaan salah yang aku anggap sepele, padahal pelan-pelan bisa merusak imanku? Meski begitu, di akhir pasal ini masih ada harapan melalui kisah Yoyakhin yang dibebaskan dari penjara dan diperlakukan dengan baik oleh raja Babel. Di tengah kehancuran, Tuhan tetap menunjukkan bahwa Ia tidak sepenuhnya meninggalkan umat-Nya. Masih ada masa depan, walau keadaan saat itu tampak ge...

renungan 2 raja raja pasal 23

 Hari ini aku merenungkan kisah Raja Yosia yang dengan sungguh-sungguh membersihkan Yehuda dari penyembahan berhala. Ia tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi benar-benar bertindak. Mezbah-mezbah dihancurkan, patung-patung disingkirkan, dan kebiasaan lama yang berdosa dihapuskan. Dari kisah ini aku belajar bahwa pertobatan sejati tidak berhenti pada penyesalan, tetapi terlihat dalam keputusan dan tindakan nyata. Aku melihat diriku sendiri dalam bangsa Israel. Sering kali aku tahu mana yang salah, tetapi masih membiarkannya tinggal dalam hidupku. Berhalaku mungkin bukan patung, tetapi bisa berupa kenyamanan, keinginan pribadi, atau kebiasaan yang membuatku jauh dari Tuhan. Yosia mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan menuntut keberanian untuk melepaskan hal-hal yang sudah lama melekat. Yosia juga merayakan Paskah untuk mengingat kembali karya Tuhan bagi umat-Nya. Ini mengingatkanku bahwa perubahan hidup perlu ditopang oleh ingatan akan kasih dan kesetiaan Tuhan. Walaupu...

renungan 2 raja raja pasal 19

 Hari ini aku membaca tentang Raja Hizkia di 2 raja raja pasal 19 yang menghadapi ancaman besar dari Asyur. Kota Yerusalem dikepung, dan musuh mengejek Tuhan seolah-olah Tuhan tidak berdaya. Saat membaca bagian ini, aku merasa seperti melihat diriku sendiri ketika masalah datang dan aku mulai dikuasai oleh rasa takut. Yang menyentuhku adalah sikap Hizkia. Ia tidak berpura-pura kuat, tetapi datang kepada Tuhan dengan jujur. Ia membawa surat ancaman itu ke hadapan Tuhan dan berdoa. Dari sini aku belajar bahwa saat aku tertekan, aku tidak harus mengandalkan kekuatanku sendiri, tetapi boleh membawa semua ketakutanku kepada Tuhan. Tuhan menjawab Hizkia bahwa musuh itu tidak akan berhasil. Dan benar, Tuhan sendiri yang bertindak tanpa Hizkia harus berperang. Ini mengajarkanku bahwa tidak semua masalah harus aku selesaikan dengan tenagaku sendiri. Ada saatnya aku perlu diam, percaya, dan membiarkan Tuhan bekerja. Hari ini aku belajar bahwa ancaman dan tekanan tidak lebih besar dari kua...

ibadah jumat tingkat pertama STT Wesley

  Malam ini kami baca Lukas 10–12 bareng tingkat 1. Jujur, bagian yang paling kena itu waktu Yesus cerita tentang orang Samaria yang baik hati. Selama ini aku sering dengar kisah itu, tapi malam ini rasanya beda. Aku jadi mikir, kadang aku tahu mana yang benar, tapi belum tentu langsung gerak. Bisa aja cuma lewat, pura-pura nggak lihat, atau merasa bukan urusanku. Terus waktu baca tentang Maria dan Marta, aku juga merasa ditegur. Marta sibuk banget, Maria duduk dengar. Aku sering banget kayak Marta—sibuk, aktif, tapi lupa duduk tenang dulu. Padahal mungkin yang paling penting itu dekat sama Tuhan, bukan cuma kelihatan produktif. Masuk pasal 12, bagian soal jangan kuatir juga lumayan bikin diam. Yesus bilang jangan terlalu khawatir soal hidup, soal makan, soal masa depan. Padahal jujur aja, itu yang sering ada di pikiranku. Tapi ayat itu seperti bilang, hidup ini lebih dari sekadar hal-hal itu. Dari bacaan malam ini aku dapat satu hal: iman itu bukan cuma tahu cerita, tapi berani pe...

Renungan 2 raja raja pasal 17

  Waktu membaca 2 Raja-Raja pasal 17, aku seperti sedang melihat kisah hidupku sendiri, bukan cuma sejarah bangsa Israel. Di pasal ini diceritakan bahwa Israel hancur bukan karena Tuhan tidak sanggup menolong, tetapi karena mereka terus hidup jauh dari Tuhan. Firman Tuhan bilang bahwa mereka melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa lain (2Raj. 17:7–8). Aku langsung kepikiran diriku sendiri. Ada masa ketika aku merasa dekat dengan Tuhan, rajin berdoa, rajin membaca firman. Tapi pelan-pelan, tanpa sadar, aku mulai longgar. Aku tahu mana yang benar, tapi sering memilih yang lebih nyaman. Aku tidak secara terang-terangan meninggalkan Tuhan, tapi aku membiarkan hal-hal lain mengisi hatiku lebih dulu daripada Dia. Di pasal ini juga tertulis bahwa Tuhan sudah berkali-kali memperingatkan Israel lewat para nabi supaya mereka bertobat (2Raj. 17:13). Tapi mereka tetap tidak mau mendengar dan malah makin keras hati (2Raj. 17:14). Bagian ini menegurku. Aku ...

Renungan kamar

 Hari ini aku membaca 2 Raja-Raja pasal 14 yang menceritakan tentang Raja Amazia dan Raja Yerobeam II. Pada awalnya, Amazia dikenal sebagai raja yang melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan, meskipun ketaatannya tidak sepenuhnya utuh. Ia menghukum orang-orang yang membunuh ayahnya, tetapi tidak menghukum anak-anak mereka, sesuai dengan hukum Tuhan. Dari hal itu aku belajar bahwa menaati firman Tuhan itu penting, meskipun tidak selalu mudah. Setelah Amazia menang melawan Edom, ia mulai merasa percaya diri secara berlebihan. Ia kemudian menantang Raja Yoas dari Israel untuk berperang. Raja Yoas sebenarnya sudah memperingatkannya melalui sebuah perumpamaan tentang semak duri dan pohon aras, namun Amazia tidak mau mendengarkan nasihat itu. Ia merasa kuat karena kemenangan sebelumnya, padahal Tuhan tidak pernah menyuruhnya untuk maju berperang lagi. Akibatnya, Amazia mengalami kekalahan. Tembok Yerusalem dihancurkan, harta dari rumah Tuhan diambil, dan akhirnya ia harus melarikan di...

Pelayan musik di ibadah jumat siang

 Siap, aku buatkan dalam bentuk cerita refleksi pribadi dengan bahasa sederhana dan alami. Hari ini aku pulang dari gereja dengan hati yang rasanya penuh. Pelayanan musik yang kulakukan hari ini mungkin terlihat biasa saja bagi orang lain, tapi buatku itu sangat berarti. Sejak pagi, aku sudah merasa gugup. Takut salah nada, takut lupa bagian lagu, takut malah mengganggu jalannya ibadah. Tapi di tengah rasa takut itu, aku tetap maju dan memainkan musikku. Dan saat ibadah berjalan, aku sadar: Tuhan tidak sedang menilai seberapa sempurna aku bermain, Tuhan melihat hatiku yang mau melayani. Waktu jemaat mulai menyanyi dan suasana ibadah terasa tenang, aku merasakan damai yang berbeda. Aku tidak lagi fokus pada diriku sendiri, tapi pada Tuhan yang sedang disembah. Di situ aku belajar bahwa musik bukan sekadar bunyi, tapi bisa menjadi doa. Setiap nada yang kumainkan hari ini seperti berkata, “Tuhan, ini untuk-Mu.” Aku bersyukur karena Tuhan memakai alat yang sederhana—musik dan diriku y...

Renungan kamar hari ini

Ketika membaca 2 Raja-Raja pasal 12 sampai 13, aku merasa seperti sedang bercermin. Kisah tentang Raja Yoas yang awalnya hidup benar lalu berubah, dan tentang raja Israel yang tetap jahat tapi masih ditolong Tuhan, terasa sangat dekat dengan hidupku sendiri. Aku teringat masa ketika aku rajin berdoa dan membaca Alkitab. Waktu itu aku aktif karena ada orang yang selalu mengingatkanku. Aku merasa hidupku dekat dengan Tuhan. Tapi perlahan, ketika kesibukan datang dan orang-orang yang biasa mengingatkanku tidak lagi sedekat dulu, aku mulai longgar. Doa jadi jarang, firman jadi sekadar formalitas. Seperti Yoas yang hidup benar selama imam Yoyada masih ada, aku pun sadar: imanku waktu itu lebih bergantung pada manusia daripada pada Tuhan. Yang lebih menyentuh, Yoas masih membangun rumah Tuhan, tapi tetap membiarkan bukit-bukit pengorbanan. Ini membuatku bertanya pada diriku sendiri: apakah aku juga begitu? Aku masih ke gereja, masih kelihatan rohani, tapi ada kebiasaan buruk yang kupelihar...

House Of Blessing

Gambar
  Sabtu, 31 Januari 2026 Puji dan syukur saya panjatkan untuk Tuhan Yesus yg termulia, ditinggikan lah Nama Nya karna begitu besar kuasa nya bekerja di tengah keluarga Pdt. Abe Simamora. Hari sabtu kemarin kami tingkat 1 STT WESLEY mengunjungi rumah pak Abe karena baru selesai renovasi, pak abe membuat ibadah singkat dirumah nya untuk menandakan rasa syukur nya atas kelancaran renovasi rumah nya berjalan dengan baik. Di salah satu sesi ibadah ada bagian yg memberikan kesaksian dari kak Laura anak pak Abe tentang rumah mereka. Disana kak Laura menceritakan kejadian dirumah tersebut sebelum di renovasi yg ke 3 kali nya, rumah tersebut sebelumnya sudah di renovasi 2 kali dan selalu ada saja kendala dan salah satu kendala nya adalah atap mereka yg bocor dan pasti banjir kalau sudah hujan deras, dan yg menarik dari kesaksian tersebut adalah nama rumah mereka yaitu, HOUSE OF BLESSING , mereka memberi nama rumah tersebut buka tanpa alasan yg jelas, tapi semua berawal dari nama wifi mereka...