Berhasl diluar, tetap melekat di dalam ( 2 Tawarikh 8-9 )
Saat membaca 2 Tawarikh 8–9, aku melihat bagaimana kehidupan Salomo dipenuhi keberhasilan. Ia membangun banyak kota, mengatur kerajaan dengan baik, dan hidup dalam kelimpahan. Segala sesuatu tampak teratur, kuat, dan penuh hikmat. Bahkan dalam ibadah pun, Salomo tetap menjaga ketetapan yang telah ditetapkan—semua berjalan dengan tertib.
Namun yang paling menarik bagiku ada di pasal 9, ketika ratu dari negeri jauh datang untuk melihat sendiri hikmat dan kemegahan Salomo. Ia terkagum-kagum, bahkan mengakui bahwa apa yang ia dengar sebelumnya tidak sebanding dengan apa yang ia lihat langsung. Dari sini aku melihat bahwa ketika Tuhan memberkati hidup seseorang, itu bisa menjadi kesaksian nyata bagi orang lain.
Tapi di tengah semua keberhasilan itu, aku merasa diingatkan akan sesuatu yang penting: keberhasilan lahiriah tidak boleh membuatku kehilangan kedalaman rohani. Salomo memang diberkati luar biasa, tetapi aku tahu dari bagian Alkitab lainnya bahwa hidupnya tidak selalu konsisten sampai akhir. Ini membuatku berpikir—jangan sampai aku terlihat “berhasil” di luar, tetapi sebenarnya mulai jauh dari Tuhan di dalam.
Hari ini aku belajar bahwa berkat, pencapaian, dan keberhasilan bukanlah tujuan utama. Semua itu hanyalah sarana untuk memuliakan Tuhan. Yang lebih penting adalah menjaga hati tetap dekat dengan-Nya. Karena tanpa hubungan yang benar dengan Tuhan, semua yang terlihat hebat bisa kehilangan maknanya.
Refleksi pribadiku
Apakah aku lebih fokus pada pencapaian daripada hubungan dengan Tuhan? Apakah hidupku benar-benar memuliakan Tuhan, atau hanya terlihat baik di mata orang lain?
Aku ingin belajar untuk tetap rendah hati ketika diberkati, dan tetap setia ketika tidak terlihat.
Komentar
Posting Komentar