Mendengar dengan bijak dan tetap setia ( 2 Tawarikh 10-11 )
Saat membaca 2 Tawarikh 10, aku melihat bagaimana Rehabeam menghadapi keputusan penting sebagai raja. Ia meminta nasihat dari para tua-tua yang bijaksana, tetapi pada akhirnya ia justru memilih mengikuti nasihat teman-teman sebayanya yang lebih keras dan tidak bijak. Keputusan itu membawa dampak besar—kerajaan Israel terpecah. Dari sini aku belajar bahwa satu keputusan yang salah, terutama karena kesombongan dan ketidakmauan untuk mendengar dengan rendah hati, bisa membawa akibat yang panjang.
Aku merasa ditegur, karena sering kali aku juga lebih mudah mendengar suara yang sesuai dengan keinginanku daripada suara yang benar. Kadang aku tahu mana yang bijak, tetapi tetap memilih jalan yang terasa “lebih enak” atau lebih menguntungkan secara pribadi. Kisah ini mengingatkanku bahwa kerendahan hati untuk menerima nasihat yang benar adalah hal yang sangat penting.
Lalu di 2 Tawarikh 11, aku melihat sisi lain. Rehabeam sempat ingin berperang untuk merebut kembali kerajaan yang hilang, tetapi Tuhan berbicara melalui nabi-Nya agar ia tidak melakukannya. Dan kali ini, ia taat. Ia memilih untuk tidak melanjutkan ambisinya dan mengikuti kehendak Tuhan. Dari sini aku belajar bahwa meskipun kita pernah salah, selalu ada kesempatan untuk kembali taat.
Aku juga melihat bagaimana orang-orang Lewi dan mereka yang sungguh mencari Tuhan tetap setia, bahkan rela meninggalkan tempat mereka demi beribadah dengan benar. Ini menyentuh hatiku—kesetiaan kepada Tuhan kadang menuntut pengorbanan, tetapi itu adalah pilihan yang benar.
Hari ini aku merenung: hidupku juga penuh dengan pilihan. Aku ingin belajar untuk tidak keras kepala, tetapi mau mendengar, mempertimbangkan dengan bijak, dan terutama mencari kehendak Tuhan dalam setiap keputusan.
Refleksi pribadiku
Apakah aku lebih sering mengikuti keinginanku sendiri daripada mendengarkan nasihat yang benar? Apakah aku cukup peka untuk mendengar suara Tuhan?
Komentar
Posting Komentar